Wawancara Iwan Fals di Tahun 1990-an








[ARTIKEL] Berikut ini adalah wawancara Iwan Fals yang cukup panjang dan menarik yang dilakukan sekitar tahun 1996 oleh majalah Ummat. Semoga Bermanfaat. -Redaksi-





Iwan Fals : "Saya Suka Hijau, Kuning Merah..."





Angin pagi dan rintik hujan membasahi lapangan Simpruk, Kompleks Pertamina, Kebayoran Lama. Sosok lelaki berbadan tegap itu menatap dengan nanar lapangan sepak bola yang dilumuri rintik hujan. Dia biarkan kumis dan jenggotnya tak beraturan, dengan tinggi badan 175 cm dan berat 65 kg. Juga rambutnya yang panjang.





"Kita pulang saja. Cuaca tak memungkinkan kita latihan pagi ini," ujarnya


lirih, sambil membuka pintu mobilnya.





Mobil Troover tahun 1992 warna metalik itu pun bergerak perlahan. Dan di


antara deru mesin mobil, juga tegur sapa para penjaja koran, sayup-sayup


terdengar nyanyian:





Hutanku rusak langitku bocor makanan yang aku makan tercemar ... Suara dalam


lirik lagu Hijau yang agak berat dan parau itu keluar dari lelaki bernama


Virgiawan Listanto , yang lebih dikenal dengan Iwan Fals itu.





Lagu dan album Hijau itu, yang ia buat hanya beberapa jam, konon album


termahal yang pernah ada dalam industri musik kita. Kabarnya album Hijau itu


laku Rp 300 juta. "Entahlah. Aku nggak tahu kalau sudah masuk ke persoalan


itu. Laguku laku atau tidak, itu soal kedua. Yang pertama, fungsiku


mencip~ta dan menyanyikannya," tutur Iwan ketika didesak soal kebenaran


angka jutaan pada album Hijau.





Sosok Iwan Fals memang tak bisa lepas dari rimba per~bincangan musik


Indonesia kontemporer. Terutama syair yang ia tebarkan ke wilayah publik,


yang selalu diwarnai kegalauan, kegamangan jiwa, dan pemberontakan hati


nurani yang tulus terhadap gejolak yang ada di sekitarnya. Dan respons yang


ia berikan, adalah ~jelmaan dari pengembaraan hati nurani yang jujur, tanpa


pretensi dan gangguan beban dari kekuatan yang ada di sekelilingnya.





Maka, tak heran, akibat kejujuran yang ia sebar melalui syair-syairnya itu,


Iwan sering berbenturan dengan "tembok-tembok kekuasaan". Ia pun "dice~kal"


di mana-mana. Puncak perbenturan itu terjadi pada 1989, saat tur


pertunjukkan 100 kota Iwan digagalkan oleh Kapoltabes Palembang.





Air mata Iwan pun menggenang saat membuka lembaran kelabu di tahun 1989 itu.


Dan ia mendesah dengan suara yang agak parau, "Buatku sungguh aneh. Aku kan


cuma bawa gitar kayu dan tali senar. Tak ada bahayanya dibanding tank,"


ujarnya ketika menutup pintu mobil, sambil mempersilakan kami berbincang di


ruang tamu rumahnya, di kawasan Bintaro. Di Garasi rumah itu, tampak mobil


lain Iwan, Daihatsu Taft, warna biru.







style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-1268599916975782"
data-ad-slot="6981532868">




Pemegang Dan II Karate ini cuma ingin bersaksi bahwa lirik lagu yang ia


ciptakan bukan anggur atau jeantonic yang dapat memberikan kenikmatan bagi


peminumnya, melainkan hanya setetes air putih --penyuci akal yang tanpa


hati. Dan ia tak berpretensi apa-apa. "Kalau mau dicekal, silakan saja. Tapi


itu tidak akan mence~kal imajinasi dan kreativitasku," papar Iwan dengan


nada tegas.





Bagi suami Rossana (36), serta ayah Galang Rambu Anarki (14) dan Anisa Cikal


Rambu Bassae (11), kejadian itu memberikan kekuatan baru dalam menapaki


garis hidup yang ia tempuh --garis hidup di jalur musik. Sosok yang pernah


diklaim sebagai Bob Dylan-nya Indonesia ini makin yakin bahwa musik adalah


sesuatu yang serius dan penuh dengan irama kehidupan yang menghentak.





Ziarah Batin. Kehidupan jalanan membawa Iwan terdampar di setiap lembah yang


penuh kemuraman. "Aku sempat terbuai minuman, mabok-mabokan, dan ganja. Tapi


itu dulu. Hanya saja aku selalu menemukan jalan keluar. Hubunganku dengan


Dia lebih kuat dari semuanya. Aku bisa nangis dan sujud sama Dia," ujar


Iwan.





Iwan merasakan betul sentuhan batin Rendra. "Aku lebih baik dibilang


terpengaruh Mas Willy (panggilan akrab Rendra --Red. ) ketimbang siapa pun,


termasuk Bob Dylan." Iwan memang pernah terlibat di Bengkel Teater Rendra.


Menurut Iwan, "Mas Willy dan teman-teman Bengkel Teater juga memberi ingatan


perihal detail dan soal kedalaman pada lagu-laguku."





Memasuki paruh tahun 1990-an, Iwan kelihatan makin "alim". "Aku mulai


shalat. Meski masih cemang-cemong (bolong-bolong), ya.. paling tidak


shalatku merupakan bagian kontemplasiku," ungkap penyanyi yang menjadi idola


anak muda ini. Hanya saja, sampai sekarang, menurut pengakuan Iwan, ia masih


sulit bangun pagi untuk shalat Subuh.





"Yos --panggilan sang istri-- yang rajin shalat. Bahkan, untuk kegia~tan


lain, seperti setiap Senin sore, di rumah ada guru mengaji, aku nggak ikut.


Hanya Yos, Galang, dan Cikal saja. Kalau aku ikut, bisa-bisa aku yang


ngajarin guru ngaji untuk nyanyi," ucapnya, diiringi derai tawa dan kepulan


asap rokok kretek Djarum 76-nya.







style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-1268599916975782"
data-ad-slot="6981532868">




Dunia Ngamen. Lewat pergulatan panjang dan benturan-benturan hidup yang


dilaluinya, Iwan Fals, yang dilahirkan 3 September 1961 di Jakarta, dan


menikah pada usia 19 tahun, menjalani hidup penuh kontroversi.





Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Kol (Purn.) Harsoyo dan Lies


ini meminati dunia tarik suara sejak masa kanak-kanak. Harmonika yang diberi


oleh uyut , neneknya ibu, adalah awal perkenalan Iwan dengan perangkat


musik. Ia pun menyanyi dan mencipta syair lagu ketika masih duduk di bangku


sekolah dasar. Tamat SD, ia sempat mukim di Jeddah, selama 9 bulan,


mengikuti orang tua angkat. "Aku sempat sekolah di sana. Muridnya cuma tiga.


Karena muridnya sedikit, aku nggak bisa nyontek . Bosan, dan akhirnya


kembali ke Indonesia," papar Iwan sambil bercanda.





Di bangku SMP 5 Bandung, gitar hadiah orang tuanya juga memberi andil dalam


perjalanan hidup Iwan. "Dunia ngamen aku jalani ketika masih duduk kelas


satu SMP. Itu karena uang saku bulanan cuma Rp 10.000. Itu kurang sekali


waktu itu. Terpaksa ngamen . Dari pagi sampai magrib bisa dapat Rp 4.000.


Lalu keterusan," aku Iwan mengenang masa lalunya.





Suatu ketika ia ngamen di kompleks Akabri, Jalan Sahardjo, Jakarta, di satu


rumah yang ramai oleh ibu-ibu arisan, Iwan tersentak. Ternyata ibunya salah


satu dari peserta arisan di kompleks Akabri tersebut. Ia pun dihardik.





Namun ayahnya mendukung aktivitas Iwan. "Aku dapat dukungan dari Bapak,


meski mulanya dia juga nggak suka. Dia nanya , apa aku yakin dengan jalan


hidup yang kuambil. Aku bilang, 'Ya.'"





Usai SMP, Iwan sempat mengenyam SMA di Yogyakarta, meski akhirnya


menyelesaikan di ibu kota pada tahun 1979. Dan ngamen jalan terus. "Aku


pernah disiram kopi panas, ketika ngamen di daerah Bandung. Ya.. aku terima


saja. Kita kan nggak diundang. Harus siap menghadapi risiko," kenang Iwan


sambil mengumbar senyum.





Iwan pun sempat menikmati bangku kuliah di Sekolah Tinggi Publi~sistik,


Jakarta (kini IISIP) --tak selesai-- sembari terus ngamen . Sejak di sarang


wartawan inilah namanya mulai menghiasi halaman media massa. Dan album


pertamanya, Oemar Bakri (1981), meledak.





Suara azan di siang hari ikut serta menyemarakkan perbincangan kami. Yos


bergegas ke kamar mandi, membasuh wajah dan menyucikan bagian badannya yang


lain, untuk shalat Zuhur. Cikal pulang sekolah. Dan Galang, sudah empat hari


tak terlihat di rumah. Dua pembantunya, mondar-mandir. Sementara di luar


rumah, dua orang pekerja kebun memunguti daun-daun yang berserakan di taman,


sambil memangkas ranting-ranting pohon.





"Meski rumah kontrakan, aku betah. Insya Allah, enam bulan lagi kami pindah


ke rumah sendiri, di Desa Leuwiang, Pondok Gede," ungkap Iwan, yang sedang


membangun rumah bertingkat dua di area tanah seluas 3.000 meter. Ia ingin


tenang menjelang pemilu. Menyaksikan perubahan. "Banyak orang bilang aku


Golput. Padahal setiap pemilu, aku tusuk semua gambar kontestan yang ada.


Karena kebetulan aku suka warna dasar kuning, hijau, dan merah...," gurau


Iwan, menutup perbincangan kami.





Edy A. Effendi





----------------------------------------------------------------------------




style="display:block; text-align:center;"
data-ad-layout="in-article"
data-ad-format="fluid"
data-ad-client="ca-pub-1268599916975782"
data-ad-slot="6981532868">




Demokrasi Nasi di Negeri Petani





April 1984 di Pekanbaru, memegang gitar dan harmonika, menyanyikan lagu


Demokrasi Nasi dan Mbak Tini (dua lagu yang tak pernah ada di albumnya),


menyeret Iwan beruru~san dengan Korem 031 Pekanbaru. Lagu Demokrasi Nasi


dianggap mengganggu stabilitas. Akhirnya, Iwan ditahan dan diinterogasi.





"Aparat keamanan nyuruh aku bikin lagu seperti lagunya Rinto Harahap dan A.


Riyanto. Ya, jelas, dong, nggak bakalan laku," ujar Iwan sambil menyibak


rambutnya.





Kejadian serupa terjadi di Bandung, 2-3 Maret 1992. Usai pertunjukkan, fans


Iwan Fals ngamuk . Iwan pun kembali berurusan dengan pihak kepolisian.





Dalam bentuk lain, ketika acara "Indonesian International Drum Festival


1993", 18 Desember 1993, botol-botol minuman, kursi-kursi serta pot-pot


bunga yang ada di sekitar panggung terbuka Pasar Seni Ancol, beterbangan.


"Tapi kenapa aku yang selalu jadi sasaran kesalahan. Padahal, soal kerusuhan


penonton, banyak faktor yang ikut mendukung. Salah satunya, ya.. kesenjangan


sosial," jelas Iwan.





Yang paling dirasakan memukul batin Iwan adalah saat tur 100 kota tahun


1989, yang sudah dirancang secara dengan matang, dihentikan oleh Kapoltabes


Palembang. Dan Iwan pun meneteskan air mata. "Aku heran. Alasan pembatalan


itu tidak jelas. Katanya ada isu per~saingan sponsor, peristiwa Lampung, dan


macam-macamlah ...," ungkap Iwan. Pencekalan Iwan banyak disebabkan oleh


lirik lagunya yang dianggap "bugil dan telanjang". Hanya saja, menurut Iwan,


selama ini belum pernah ada pernyataan resmi dari aparat bahwa lirik-lirik


lagun~ya jadi penyebab keributan.





"Mereka butuh masukan tentang siapa kita. Kritik itu penting untuk


keseimbangan, untuk kehidupan bersama. Bukankah itu juga diinginkan oleh


orang semacam Nurcholish Madjid, tentang perlunya partai oposisi, sebagai


check and balance ?" ungkit penyanyi balada itu.





Tapi, urusan cekal dan sensor lagu tak hanya dikerjakan oleh aparat


keamanan. Produser pun sering ikut campur. "Produser takut kalau-kalau


studionya ditutup. Aneh juga, Pemer~intah saja nggak pernah menyensor lirik


laguku. Mereka hanya kurang informasi. Ya.. aku sadar, aku hidup di negeri


petani, yang demokrasinya masih pakai nasi," ucap Iwan.





Saat ini, Iwan lebih betah tinggal di rumah, menemani Yos, Galang dan Cikal.


Galang, anak pertamanya, meneruskan tradisi ayahnya, main musik. Sekolah pun


dia tinggalkan ketika masih kelas dua SMP. "Aku suruh anak-anak memilih


jalan hidupnya sendiri. Sebagai orang tua, tugasku mengingatkan saja,"


komentar Iwan ketika melihat Galang malas pergi ke sekolah. [EAE]





Sumber : Majalah Ummat 1996


Kutipan : Bintang






==============================




Artikel ini diambil dari majalah/koran kemudian telah di ketik ulang dan di re-upload, dan ini hanya sekedar membagi wawasan agar dapat membacanya kembali, khususnya kepada penggemar Iwan Fals. Semoga bermanfaat.


Haturnuhun




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Album Misteri Iwan Fals

UPAH NYANYI IWAN FALS DIBAYAR 8 SISIR PISANG